Mendukung REDD

Monday, January 30, 2012

Berbagi Membaca

SoloSinau - Bengawan.org

Membaca... apa saja pasti memberikan manfaat..tentu saja. Sekedar bercerita, sebut saja sekarang seorang mantan bos dulu, hobynya juga membaca. Buku apapun dilahapnya, hoby beliau ini memang sudah berlangsung sejak dulu kala. Sampai buku karangan Anny Arrow (bener ga nulisnya <--excuse) pun pernah dia baca beberapa episode. Celakanya dia mengingat salah satu karakter nama yang diciptakan penulisnya..senama dengan saya. Blahh... jadilah kemudian saya bintang (maaf) porno dikepalanya.
Bicara manfaat, sekian puluh tahun kemudian ketika beliau mempunyai anak buah yang bisa jadi obat stress, karena gagal menjunjung nama sendiri dan jatuh terpuruk karena dosa orang lain (karena menulis buku porno), manfaat membaca tulisan Anny Arrow kami rasakan berdua. Alih - alih bos kalo ga puas ma kerjaan anak buah pasti didamprat habis, tidak untuk saya, kalo ada yang ga bener saya kerjakan, paling banter didiemin sejam juga saya sudah kerasa ada yang ga beres. Kalo ga didiemin satu hari penuh dia akan membawa atmosfer kerja ke banyolan ga karuan, tentang bintang porno itu.
Hubungan ini berlanjut seperti itu sampai saat ini sejak setahun yang lalu saya tinggalkan beliau.

Sebuah buku juga telah banyak memberikan kontribusi terhadap cara pandang individu. Saya pribadi saja tidak perlu jauh-jauh, sebuah buku telah membuat saya memiliki mimpi yang sampai sekarang masih membekas dan masih menjadi mimpi. Perancis.
Buku itu berjudul "Le Petit Prince" ketika itu saya mendapatkan buku saat berusia kelas 5-an SD. Dibawakan Bapak yang kebetulan saat itu sebagai guru SD honorer, jika biasanya beliau membawakan 'Kuncung', karena belum ambil gaji honorernya, beliau mampir toko buku loak dan membelikan buku itu untuk saya dalam kondisi bekas dan dibungkus koran bukan plastik. Atas dasar apapun beliau memilih buku itu, Tuhan campur tangan didalamnya, dari sekian banyak buku yang di jual di loak, buku berjudul bahasa yang asing beliau pilih. Buku itu dikarang Sir Anthoinne DE SAINT EXUPERRY kalau salah ketik tolong dikoreksi. Di halaman kulit belakang buku itu termuat nama penerbit dan sebuah tulisan besar PERENCIES dengan menara eiffel diatasnya. Image dan tulisan itu membekas di ingatan saya, bukan isinya karena saya tidak memahami satu katapun didalamnya. Tidak banyak yang dapat saya lakukan saat itu, dan layaknya anak kecil yang suka berandai-andai, andai-an saya saat itu adalah saya ingin melihat Perencies (diceritakan padaku kala itu tentang keindahannya, entah dari mana Bapak tahu tentang Perencies). Untuk dapat mengerti isi buku itu aku membutuhkan beberapa tahun berikutnya ketika saya duduk di bangku SMP, saya menemukan buku bergambar sampul sama....ta da...ya bukan kebetulan karena begitu ingin mengerti isi buku itu, pencarianku berhenti di perpustakaan SMP-ku. Dengan judul "Pangeran Kecil" dalam bahasa Indonesia terbitan BP..diusia belasan tahun saya membaca buku itu lengkap dengan terjemahan dan dalam bahasa aslinya. Percayalah jika ingin tahu bagaimana buku itu merubah cara pandang saya, bacalah buku itu. Dan keinginan ke Perencies itu sampai sekarang masih sangat kuat dalam diri saya, meskipun kemudian saya sudah mengetahui isi buku itu.

Pengalaman membaca buku bagi siapapun pasti akan memberikan kesan sendiri. Mantan Bos itu dan saya sendiri sedikit banyak telah terpengaruh apa yang pernah dibaca di masa lalu. Buku apapun pasti akan memberikan manfaat spesific bagi pembacanya. Meskipun bukunya sama, jika dibaca dua individu berbeda pasti juga akan memberikan manfaat yang berbeda bagi masing masing pembacanya.
Tidakkah anda ingin seperti Bapak saya yang telah memberikan kesempatan indah buat saya bermimpi tentang sebuah negeri bernama Perancis? terima kasih saya kepada beliau masih saya sampaikan (meskipun dalam hati saja) atas kesempatan yang beliau berikan kepada saya untuk mengenal buku berjudul Le Petit Prince itu...
Atau mungkin anda ingin juga menulis seperti Anny Arrow dan memberikan berjuta inspirasi untuk pembaca anda...dan tentu saja isi-nya yang berbeda...

ayo menulis dan memberikan kesempatan orang untuk membaca!

Tuesday, October 4, 2011

Perdagangan Karbon vs or feat. Kampanye Hijau ?

SOLO, Indonesia telah meratifikasi/mengesahkan Protokol Kyoto, 1997 (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PBB TENTANG PERUBAHAN IKLIM) dan dituangkan dalam Undang Undang No. 17 tahun 2004 sejak tanggal 28 Juli 2004, tujuh tahun yang lalu. Sejak saat itu pula Protokol tersebut menjadi Undang-Undang di negeri ini dan menjadi kewajiban semua warga negara untuk mentaatinya, dan jika terjadi pelanggaran maka sangsinya jelas adalah sangsi hukum. Kurun waktu 7 tahun tidaklah sebentar, waktu yang hampir mendekati satu dekade, namun implementasi dari pemberlakuan Undang-Undang tersebut hingga sekarang belum terdampak nyata. Padahal Protokol itu telah secara jelas mengatur dan menetapkan pengelolaan segala aspek kehidupan yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Pembatasan emisi (buangan) industri bagi negara-negara maju dan pengelolaan sumber-sumber pengurang dampak Gas Rumah Kaca (GRK) bagi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam Protokol tersebut juga telah disebutkan adanya kompensasi penyeimbang dari negara-negara maju untuk negara-negara berkembang yang memberikan peran serta aktive dalam mengurangi dampak GRK.

Lepas dari kompensasi yang diberikan negara maju, sudah menjadi kewajiban kita mengelola dan mempertahankan kelangsungan Hutan Hujan Tropis milik kita sendiri. Jika tidak kita 'jual' untuk negara-negara maju sebagaimana kompensasi yang telah diatur, cadangan karbon adalah milik kita dan anak cucu kita. Berbagai dialog dan seminar diadakan untuk mengetahui respon masyarakat umum terhadap pertukaran antara cadangan karbon yang dimiliki negara-negara berkembang dengan hutan-hutan lestari mereka dan kompensasi yang diberikan negara-negara maju atas emisi industri yan mereka hasilkan. Lazimnya saat ini di sebut perdagangan karbon. Pro dan kontra mewarnai issue di dalam maupun diluar negeri.

Lantas kenapa lembaga pecinta lingkungan sekelas Walhi justru malah menolak perdagangan karbon ini. Menurut mereka pengurangan dampak GRK seharusnya dikurangi dengan berkonsentrasi pada pembatasan emisi industri bagi negara maju, dengan kata lain pengelolaan hutan sudah sewajarnya menjadi tanggung jawab negara-negara berkembang bukan sebagai dalih industri maju untuk bebas membuang emisi asalkan memberikan kompensasi. Jika dibiarkan negara-negara maju terus menghasilkan emisi industri yang memiliki kecenderungan meningkat, maka negara berkembang hanya akan menjadi toilet dari emisi industri itu. Lebih lanjut Walhi menegaskan adanya kemungkinan ketergantungan yang akan semakin dirasakan negara berkembang terhadap negara-negara maju. Apabila cadangan karbon telah 'dijual' maka negara berkembang tidak akan memiliki karbon mereka sendiri untuk mengembangkan industri. Hingga mengakibatkan keterbatasan lapangan pekerjaan, kesenjangan sosial dan masalah perekonomian yang berakar dari keterbelakangan industri.

Apa yang kemudian bisa kita lakukan ?

Indonesia ACT! bloger aksi nyata... sosialisasi seluas mungkin kepada seluruh masyarakat. Penjabaran dari Undang-Undang no.17, 2004 berikut implementasi nyata. Penyebaran informasi penggunaan teknologi industri melalui mekanisme pembangunan bersih (MPB). Dan semangat untuk terus mendukung program-program penemuan renewable energy. Serta sejak dini secara terus-menerus memberikan pengetahuan tentang pembatasan jejak karbon masing-masing individu di negeri ini. Ternyata banyak yang dapat kita lakukan.! Lepas dari berapapun kompensasi yang akan diberikan negara-negara maju, kita akan tetap menghadapi resiko pemanasan global. Keyakinan saya jika kompensasi tersebut digunakan secara tepat oleh pemerintah guna menjaga stabilitas keuangan, perekonomian dan peningkatan kesejahteraan yang merata, maka dengan sendirinya masyarakat akan memiliki rasa tanggung jawab terhadap pengelolaan hutan hujan tropis yang kita miliki bersama. Alih-alih menggunakan hutan untuk menjadikannya sebagai industri hijau, pemerintah dituntut untuk memahami issue lokal mengenai milik siapakah sebenarnya fungsi hutan kita?. -Hiu, data diambil dari berbagai sumber di internet.

Thursday, September 15, 2011

tingggal satu harap

..tipikal laki-laki kebanyakan, jika sudah tidak lagi cinta itu ada, ia berusaha untuk tidak membenci setitik nila pun. Agar tetap susu itu laik teguk, meskipun tak lagi haus ia rasakan. Hanya saja susu itu pernah diperah untuk satu tujuan, dan baginya tersaji di gelas minum sudahlah cukup, tidak peduli siapa saja yang bersedia meneguk. Dangkal.


..bagi musang pun tidaklah pernah ada kesempurnaan. Jika tidak karena anjing-anjing penjaga tentu karena tidak ada lagi ayam di peternakan yang bisa di curinya satu atau dua. Baginya perjuangan adalah keharusan, pengorbanan pun sedia dilakukan. Bukan untuk mengejar kesempurnaan itu, hanya saja dia memang benar-benar lapar. Dangkal.


..kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda, aku tidak pandai dalam permainan kata. Setidaknya bantulah aku untuk memahami keinginanmu dan kebutuhanmu. Hampir ternadzirkan aku diujung perjuangan, tidak ada lagi yang bisa aku sediakan untuk sebuah pengorbanan.


..biduk kita sudah koyak, bukan karena ombak. Tapi biduk kita hanyalah lipatan kertas, setetes air saja sudah dapat membuatnya tercabik.


..hampir saja aku kehabisan keberanian untuk menyimpan satu saja harapan. Jika aku tidak pergi kali ini, tidak akan ada lagi keberanian itu. Aku berharap.