Saturday, January 5, 2008

Days before..

"Hai.." sapaku.
Dan kau masih saja diam, sembab matamu menjawab kenapa. Kalau saja masih telingaku mendengar tentu sudah banyak kesah yang kau curahkan sekarang.
Tidak terasa hampir 10 tahun lamanya, sejak terakhir kita bertemu. Aku ingat betul saat saat sore menjelang terbenam matahari. Gaun putih lembutmu, berpadu angin pelan dan serangga yang mulai terbang mencari terang. Dulu belum banyak pusara lain di disini, hanya satu dua menemani pusaramu. Kau suka berlari ketanah lapang berumput menuju randu yang dulu ada ditengah padangnya. Sekarang semua tampak lebih sempit, tanah itu sepertinya lebih lapang dulu. Randu itupun kini tak lagi disana, dimana lagi kita bisa duduk menatap jingga matahari?
Semak belukar hampir saja menimbun pusaramu. Aku mencoba menguak semak untuk menemukan lagi tulisan dan memastikannya utuh tidak berganti. Putri masih disana, aku pastikan namamu.
Lama aku terdiam, tanganmu masih saja dingin.
"Maaf bukan maksudku untuk lupa berkunjung, saat ini aku tak lagi tinggal di tempat yang sama...."
"...kalo dulu paling bolos sekolah akujuga bisa mampir."
"Tapi sekarang banyak yang harus aku tinggalkan, meskipun telat tapi aku datang juga kan..?"
"Selamat Ulang Tahun Yah...I LOVE YOU"
Aku lihat sekilas senyummu, sebentar saja. Bangga aku pernah memilikinya.
"Aku sudah siapkan beberapa telur dan paku untuk paman xxx " wajahnya berubah seketika aku menyebut nama ayahnya. Begitulah setiap kalinya. Kali ini dia membalas dengan menggelengkan kepala.
Akhirnya. Ini juga adalah saat yang aku tunggu untuk Putri berkata tidak.
Tentu dendamnya tak lagi seperti dulu. Ayahku pasti sudah berhasil membujuknya...sebenarnya aku juga merasa kasihan pada paman, adik ayahku itu. Tapi mengenang derita Putri dulu umpatankupun selalu keluar.
"Mati saja kau..!!"

1 comment:

  1. harus mikir dulu nih untuk mengerti isi keseluruhan ceritanya,
    happy new year Hiu ? say heloo to Zapette ^_^

    ReplyDelete