Thursday, June 22, 2017

#jurusbodoh

1.#Jurusbodoh
Beberapa teman sudah mengetahui kesibukan Nyonya dirumah, bikin kue. Apalagi menjelang lebaran seperti sekarang. Mau ga mau status yang tadinya pengantar kue, harus dikoreksi. Sekarang tambah devisi packing.
Awalnya fun, enjoy seperti hal2 baru yang dilakukan. Tapi menjelang deadline ternyata ga asik lagi. Mana ga boleh nyari asistent lagi....nah anak2 ada kesempatan nyari penghasilan nih awalnya aku pikir begitu, tapi...

Zia: "Paa stickernya dah aku gunting semua ...."
Paa: "Pinter anak papa."
Zia: "Satu sticker seribu ya....." Alamak... ðŸ˜¢ðŸ˜¢

Zap: "Paa besok yang deket nenek kuenya aku yang antar.."
Paa: "Okay thank you" lumayan ngirit pertalite.
Zap: "Satu toples lima ribu, total limabelas ribu" Hiks...😢😢😢

Maa: "Paa kalo dah kelar nyusunnya langsung di wrapp plastik, belinya di Tibi ada, yang selembar 1.500an.."
Paa: "Okay, uangnya nyonya...?"
Maa: "Uang bbm kan masih sisa, pakai dulu...." Huaaa...😭

Semoga kebahagian senantiasa Engkau limpahkan untuk keluarga ini ya Allah....


2.#jurusbodoh
Zia suka sekali mencari upil di lobang hidungnya, itu membuat kami benar benar khawatir tentang orientasi yang terjadi di dalam alam pikirnya. Kekhawatiran itu menurutku beralasan, karena setelah menemukan upil itu Zia tidak membuangnya, yang ia lakukan adalah menyembunyikannya seolah ia memiliki "harta karun" yang tidak boleh diketahui orang lain. Dan benar adanya kami benar-benar tidak menemukan dimana 'harta karun' itu ia sembunyikan.
Hari ini terpaksa aku menunjukkan beberapa gambar dengan kata kunci "lobang hidung sangat besar" dari google...dan, maafkan papah #ZiaJatmiko, cara ini sangat berhasil...meskipun berakhir kamu ketakutan menangis seharian, tapi hal baiknya kamu tidak lagi ngupil. Jangankan ngupil gatal diujung hidungmu aja kamu minta papah elusin. Dan percayalah kami ikut menderita dengan keberhasilan ini, bukan tertawa terbahak karenanya.
lobang besar itu...


3.#JurusBodoh
Pagi ini nganter #ZiaJatmiko school lagi, celotehnya sudah melai berisik sejak berangkat tadi. FM stereo harus mati kalo nyonya kecil ini di depan. Untuk mengurangi resiko penurunan konsentrasi mengemudi, aku memintanya menyebutkan warna mobil yang aku lewati atau yang mendahuluiku. Sekaligus pengenalan warna pikirku.
Pagi tadi:
"Pah, setop pah setop..."
"Kenapa dek?" sambil masih 80% di padat lalulintas.
"Setop duluu..cepetaaan.." Aku terpaksa menepi.
Sambil noleh kebelakang, polos dia bilang...
"aku belom liat mobile banyak...semua"
Showroom mobil second buka terlalu pagi... 
Semoga semua mobilnya laku hari ini...aamiin. (doa ku tulus tadi pagi)
Belom nyampe rumah nyonya kecil kelelahan tertidur, terpaksa muter dolo.


4.#jurusBodoh
Zia suka ngorek kalo diajak maen, aku pikir normal aja lah..anak-anak. Menjadi tidak normal ketika kebiasaan ngoreknya ketauan sama tuan rumah. Macem-macem triknya...
Siang tadi:
"pah..aku boleh duduk bawah?" Begini kalo Zia akan memulai aksi ngoreknya.
"boleh.." agar akupun bisa ngobrol lancar ma tuan rumah. Mendadak...
"Eeehhh cantikk...mau kemana? ikut tante aja yuh.." ..nurut aja Zia digandeng, jarang2 pikirku. 15 menit, 30 menit....1 jam....2 jam...aku berakhir bersama rokok dan ashtray diruang tamu sendirian, mereka nyenyak tidur...
setelah bangun tidur, pulang nyonya....pewe nyaaahh *sell.

5.#jurusbodoh

Zia masih belom bisa ngetik pesan untuk kalimat yang dia inginkan. Sedangkan aku tidak selalu memegang handset untuk angkat telponnya ketika jauh. Voice note sepertinya jadi solusi untuk kita. Tapi aku tidak mengerti bagaimana konsep kirim pesan suara yang ada di benak Zia.
Kemarin ketika sedang makan siang ditengah-tengah "penculikan minggu'' -ku untuk Zia dan Zap.
"Pah aku kirim vn..dibaca yaa..." (Vn dia persis berbunyi sama)
"Zia kalo ada papah didepanmu, kamu bisa ngomong langsung.."
..Zap tertawa mendengar celoteh adiknya.

Friday, June 2, 2017

Puisi Cinta ?

MENTARI

Surya baswara di angkasa
Jenar merbabak abra
Tanpa nada kirana bersahaja
Kutunggu datangmu aditya

Ku lari mengejarmu
Demi melihat kilaumu
Ku ingin menatapmu
Tak rela kau berlalu

Pagi datang menyapa selalu ku tunggu
Kini kutahu kenapa ku jatuh cinta padamu
Ku selalu ingin menatapmu
Ku lari demi ketemu kamu

Kuning emas kilaumu cerah
Kutatap tanpa rasa lelah
Kau adikara bagai raja
Buatku lemah tak berdaya

Sejenak kualihkan pandanganku darimu
Hanya biru hitam gelap disana
Aku tak suka
Kembali kilaumu menarikku tuk menatapmu

Kini kutahu kenapa aku jatuh cinta
Aku lemah aku tak berdaya
Ku ingin menatapmu lagi lagi dan lagi
Silaumu menarikku lagi lagi dan lagi

Aku punya kekuatan aku punya keberanian
Kembali padamu..
Kaulah MENTARIku

Karya: Anda (cintaku juga)


..mbell, kalian juga pasti pernah rasa. Ingat kembali sebentar saja rasa itu. Terlambat ? ga juga, hari ini mungkn sudah labih dari 15 tahun ketika rasa itu seharusnya mengisi ruang hati yang sekarang sudah umyek. Tetapi jika boleh jujur aku masih bisa melihat bunga-bunga itu sekarang..biar ungu, gelap cenderung hitam. Ini masalah hati, sangat penting lebih dari pantas aku tulis saat ini juga.

Sebagai mantan penakluk, tak perlu kiranya sesumbar macam tulisan ini. Tapi sodara setanah air, maklumilah ini adalah harta karun yang ditemukan. Rumput pandan yang berbuah berlian. Sisik ikan yang tumbuh menjadi dedaunan emas. Biji-biji kopi yang keluar bersama sisa cerna luwak...halah
Kalian boleh membandingkan dengan kisah-kisah roman legenda sepanjang masa, menurut kapasitas ingatan kalian tentu saja. Berikut tingkat kemakluman kalian juga aku sadari pasti berbeda-beda....bilang saja.

Hari-hari ini sudah masuk 'tua' untukku, sebahagia apapun kemudian rasa yang menyelimuti, aku bersyukur menemukan Anda di hari tuaku. Menjadi bagian ku kemudian, Meski sekedar secuil rasa.

15 tahun yang lalu

"Mbak Anda......" Seketika saja setiap melihat sosok itu berjalan gontai menuju Markas. Selalu begitu. Kekaguman luar biasa yang hanya bisa aku simpan.

"Hai..." diikuti tawa renyah nan berat. Mendadak lupa lapar, senyum seniorku ini benar memaku gerakku..tetap saja aku sembunyikan. "Nih aku bawain, katanya kamu suka baca."

Kecintaanku pada sebuah buka kemudian malah berbuntut panjang...sampai kisah ini aku tulis sekarang. Buku itu ditulis oleh mas David J. Schwartz, seorang profesor di Universitas Goergia. Bukan sebagai profesor dia dikenal tapi malah sebagai penulis dan motivator. Dan buku itu benar-benar membakar semangat, memotivasiku sampai sekarang. Dan membuatku lupa bertanya, kenapa buku itu diberikan padaku ? ..pada perhatian Anda aku lupa. 
Berikut aku sebagai junior dan ada beberapa senior yang membuatku tetap menyembunyikan kekagumanku padanya.

Pernah suatu sore.."Mbak nanti pulangnya hiu antar ya?" tawaranku ragu sebenarnya. Dan jawabnya hanya senyum diikuti anggukan ringan. Selama perjalanan aku membicarakan buku itu, cubit keras aku ingat ketika aku coba menggodanya seperti lelaki kebanyakan.
"Besok lagi kalo pulang hiu yang antar, ga boleh yang lain..." obrolan terakhir yang aku ingat.
Juga beberapa kali ketika organisasi mengadakan kegiatan lapangan. Perhatiannya ketika menyisakan satu dua lauk untukku tidak juga menggerakkan diamku.

Ditimur Sakura

perihnya pada bunga yang tak kunjung gugur
sendiri yang kutertawai dulu, kini lantang tertawa
bungkam mereka dengan senyumMu Cinta
benamkan terdalam rasa yang mungkin (kataMu) ada

Ditimur Sakura
perihnya pada doa-doa yang tak kunjung sudah
sederhana yang kukira sementara dulu, kini semayam selamanya
bungkam aku dengan senyumMu Cinta
redam tangis yang mungkin (kataMu) dusta

Ditimur Sakura
ingin kuberanjak meninggalkanmu segera, saat kuhitung kelopak demi kelopak
agar aku memilikinya. Agar kamu memiliki aku.
jika kamu ingat sedikit saja tentang aku, ingatlah untuk tidak makan pedes...aku mohon
sebutir biji cabe pun tolong hindari...aku mencintaimu karenanya.
bahagiaMu...sehatMu...semangatMu...
Dari semua itu Sayang akan tau bahagia bersamaku, meski tak lagi aku baca sapaMu


Mengenang Palmerah Mei 2017


Thursday, January 16, 2014

Ibuk

Jadi ingin menulis tentang Beliau...
Ternyata aku begitu merindukannya, terakhir bertemu beberapa bulan yang lalu. Beliau adalah kejujuran tidak terelakkan bagiku, hati putihnya senantiasa memberikan kekuatan perjuanganku selama ini. Belum lagi doa-doanya yang tidak pernah terdengar siapapun kecuali Tuhan. Dari sanalah aku sekarang ini berada. Matur sembah nuwun dalem kagem Ibuk.

Taboneo Anchorage

Beberapa kehidupaan terletak jauh dari sapa dan tawa anak-anak...
"restless"

"back home"

"day and night"

"after hour"

"calm high"

"day start"

diambil dengan lensa Blackberry 9700 Bold.

Wednesday, January 8, 2014

Sebuah Tulisan 'Perempuan'

"perempuan"

perempuan berbaring sendiri di padang sabana
beralas sepi
berselimut angin
berbantal sebelah lengan
putih warna bajunya memecah hijau rerumputan
samar terbaca tulisan di bajunya"AKU RINDU KAMU"
tapi buat apa kita bahas itu

Thursday, December 19, 2013

Kedai Tukang Kisah, Maia

   Akhir tahun ini aku mendapatkan hadiah yang menurutku sangat berharga. Paling bernilai yang pernah aku dapatkan dari sekian hadiah tahunan yang kebanyakan aku cari sendiri. Bukan, sebenarnya alam yang memberi padaku. Dan aku akan mengingat tahun 2013 ini untuk benar-benar memahami "The Celebrations Must Be Stopped" - slogan kampanye Aids yang dulu pernah aku buat semasa aktif di organisasi kemanusiaan kampus dulu. Atau ketika dulu aku pernah membuat banner disini, mungkin aku belum pernah memahami benar apa yang aku lakukan ketika itu. Dan ini kisah sederhana Maia...

Wednesday, September 25, 2013

Abraham Salm, Van Java

"De Rivier De Solo"

Lukisan bergaya natural landscapes ini merupakan koleksi dari Tropenmuseum di Belanda. Menggambarkan sebuah sungai ditanah Java yang terkenal, Bengawan Solo (sungai Solo). Lukisan berjudul De Rivier De Solo ini dibuat sekitar tahun 1865 sampai dengan tahun 1872 oleh seorang Belanda bernama Abraham Salm (1801-1876). Dia pelukis asal Amsterdam, selama tinggal di Indonesia selama kurang lebih 29 tahun ia melukis beberapa landscapes di tanah Jawa.
Berikut beberapa lukisannya yang lain...

Friday, September 20, 2013

Ujung Buih


Sketsa Senja

pada cangkir kopi yang tak bersisa diatas sebuah meja bundar tua tersudut dari riuh, aku bicara.
pada batang roko sisa waktu untuk menunggu yang kini tak mau lepas dari mulutku juga, aku masih bisa bicara.

Monday, January 30, 2012

Berbagi Membaca

SoloSinau - Bengawan.org

Membaca... apa saja pasti memberikan manfaat..tentu saja. Sekedar bercerita, sebut saja sekarang seorang mantan bos dulu, hobynya juga membaca. Buku apapun dilahapnya, hoby beliau ini memang sudah berlangsung sejak dulu kala. Sampai buku karangan Anny Arrow (bener ga nulisnya <--excuse) pun pernah dia baca beberapa episode.

Tuesday, October 4, 2011

Perdagangan Karbon vs or feat. Kampanye Hijau ?

SOLO, Indonesia telah meratifikasi/mengesahkan Protokol Kyoto, 1997 (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PBB TENTANG PERUBAHAN IKLIM) dan dituangkan dalam Undang Undang No. 17 tahun 2004 sejak tanggal 28 Juli 2004, tujuh tahun yang lalu. Sejak saat itu pula Protokol tersebut menjadi Undang-Undang di negeri ini dan menjadi kewajiban semua warga negara untuk mentaatinya, dan jika terjadi pelanggaran maka sangsinya jelas adalah sangsi hukum.

Friday, September 16, 2011

tingggal satu harap

..tipikal laki-laki kebanyakan, jika sudah tidak lagi cinta itu ada, ia berusaha untuk tidak membenci setitik nila pun. Agar tetap susu itu laik teguk, meskipun tak lagi haus ia rasakan. Hanya saja susu itu pernah diperah untuk satu tujuan, dan baginya tersaji di gelas minum sudahlah cukup, tidak peduli siapa saja yang bersedia meneguk. Dangkal.

Monday, September 12, 2011

Getir

..beberapa helai kertas ia habiskan pagi itu. Kali ini lelaki kurus itu benar-benar kehabisan kata. Dihempaskannya pensil yang hampir habis karena digigitnya. Beranjak dan nyala sebatang roko mulai dimulutnya sejurus kemudian.

Thursday, September 8, 2011

Ied 1432 H - belum bisa pulang

Pulang bagiku memiliki arti dalam. Ketika pulang berarti aku telah benar-benar menemukan rumah, menemukan tempat tinggal. Pulang bagiku juga merupakan saat paling bahagia yang aku harap-harap sejak aku pergi dulu. Ketika pulang aku ingin selamanya disana, dirumah berpeluk damai dan berselimut kehangatan qalbu.
Satu asaku saat ini Pulang...dan tidak ingin pergi-pergi lagi. Tapi belum tahun ini, aku harus terus memaksa lagi langkah-langkah kakiku.
Tahun ini sebuah rencana perjalanan telah aku tulis, persiapan pasport dan perbekalan telah aku inventaris. Ingin aku kunjungi negeri-negeri berbudaya tinggi untuk bekal aku pulang nanti. Semoga aku masih bertemu Ramadan lagi.

Tuesday, March 1, 2011

PONTEIN, it's princess bath space.

I've been working a project to discover more and more potentials resource around. Together with Tampah Event Management we found place that near people call Pontein. Nothing I've found on the web about this place. People there known the place as a private bathroom for Princess of Mangkunegaran Palace, wow getting interesting.


Than I found there lot of abandon facility that not use anymore. well I guess it was leak from time to time..



We will have a lot thing to do..but still remain to keep the building architecture as it was. We will return the function and the beauty, but the strength. It serve already... awesome !!


Wednesday, February 23, 2011

pola 'sibuk' - instruksi berantai

Sebenarnya secara spesific dan mendetail aku tidak begitu memperhatikan sebuah pola kejahatan sedang direncanakan, jika saja pelaku hanya melakukannya sekali kepada korban yang sama sebagai obyek kejahatannya, tiga hari berturut-turut. Sebagai sharing saja, aku membagi cerita ini untuk menambah kewaspadaan kita bersama..

Sebagai obyek kejahatan, berawal ketika aku berniat menjual aset properti di Cirebon. Saat ini aku tinggal di Solo, beberapa kali aku masih sempat ke Cirebon untuk menemui beberapa pembeli serius. Sangat merepotkan jika aku tidak menggunakan jasa iklan di salah satu harian di kota itu.
Sebuah iklan 'dijual, rumah beserta perabotan..dst' aku pasang dengan hanya mencantumkan kontak telepon selularku. Tetapi kemudian, dengan memasang iklan, ternyata memberikan 'peluang' kepada sebuah kejahatan terencana.

Seseorang bernama Wisnu dengan nomor Hp xxxxxxx menghubungi nomor selularku, berkaitan dengan iklan properti yang kupasang. Wisnu menyatakan ketertarikannya setelah sehari sebelumnya melihat aset bersama istrinya. Dengan menyamar menjadi pembeli (yang tentu saja aku belum sadari sedini itu) Wisnu menanyakan detail proses pembayaran, pertemuan dan details surat-surat kelengkapan aset tersebut. Aku sanggupi untuk menemuinya di Cirebon dengan membawa copy surat kelengkapan aset pada minggu yang sama.
Dengan dalih tidak ingin kehilangan kesempatan memiliki rumah tersebut dia melakukan negosiasi harga melalui tele-conference. Terbilang tidak terlalu alot, kita sepakati saat itu juga harga jual aset. Berkesan buru-buru dia menawarkan pengiriman uang muka 10 juta melalui transfer antar rekening bank. Aku sampaikan jika tidak keberatan saya terima tunai saja sejumlah total nilai aset pada saat 'meeting'di cirebon nanti (3 hari kedepan). Berikut juga aku samapikan untuk membawa kelengkapan aset asli bukan copy. Wisnu menyetujui dan menyanggupi permintaanku dan kemudian pembicaraan ternyata lebih lama dan akrab. Wisnu bercerita kegiatan bisnisnya di Cirebon dan Jakarta, meyakinkan aku saat itu dengan satu asumsi 'pembeli yang sangat serius'.
Namun rupanya asumsiku cacat esok harinya ketika Wisnu menghubungi lagi. Dikatakannya dia harus segera mentransfer uangnya sebelum berkurang karena dipakai kebutuhan yang lain....?? ingat dia belum pernah melihat asli maupun copy surat kelengkapan aset dan sekali lagi alasanya sekedar karena uangnya tidak ingin kepakai untuk kebutuhan lain. Saat itu keyakinanku berkurang dengan keseriusan Wisnu membeli rumah, namun karena ia setengah memaksa aku sampaikan akan segera mengirim nomor rekening bankku via text. Tidak ingin ada kesalahan penulisan dan sekaligus menjadi authentic proof seandainya bank melakukan kesalahan transfer.
Saat keyakinanku pada Wisnu berkurang berbanding terbalik dengan intuisi kewaspadaanku, segera meningkat drastis. Sebelum memberikan nomor rekening, aku melakukan pemeriksaan saldo, melakukan transfer rtgs ke rekeningku yang lain dan menyisakan minimal saldo pada rekening tersebut. Thanks to mobile banking technology!
Segera setelah menerima text, Wisnu memberitahukan bahwa ia saat itu sedang melakukan transfer antar rekening dan memintaku untuk mengkonfirmasi seandainya uang muka sudah saya terima. Hingga akhir hari itu, Wisnu menanyakan hampir tiap 2-3 jam, dan jawabanku pun sama 'belum'.
Esoknya Wisnu kembali menanyakan, dan mengkonfirmasi bahwa ia telah benar-benar melakukan transfer hampir seharian dia melakukan pemantauan dan otomatis seharian kerjaku juga buka tutup mobile banking. Wisnu juga memintaku untuk memeriksa saldo tidak hanya di mobile banking, dengan serius dia meminta aku untuk melakukan pemeriksaan saldo di ATM. Aku sanggupi setelah sore lepas jam kerja.
Disinilah kejahatan bukan lagi dalam proses rencana melainkan sedang terjadi. Dan aku sangat ingin mengetahui detail pola dan ujung akhir kegagalan kejahatan ini. Perhatikan baik-baik.
Begitu sampai di ATM aku diminta sms saja, bukan call dan Wisnu yang akan menghubungiku. Wisnu memintaku untuk melakukan pemeriksaan saldo dan tidak memutus sambungan telepon. Wisnu menanyakan nilai saldo, aku sebutkan. Dan aku pastikan aktif karena baru kemarin aku melakukan transfer dan tidak ada masalah.
Untuk sementara aku ikuti...oh ya, aku ingat betul ada seorang pemuda sedang menjalankan mesin di sebelahku (atm depan bank mandiri sriwedari), rupanya dia mendengar sekilas percakapanku di sellphone tiba-tiba dia mengingatkanku..Hati-hati pak penipuan..aku lempar senyum dan mengangguk terima kasih karena tidak mungkin merespon dengan kata.
Begitu mengetahui aku belum menerima transfer darinya, Wisnu memintaku menahan telepon selama dia menghubungi call center banknya. Dan melakukan tele-conference bersamaku juga..terdengar Wisnu sedang mengkonfirmasi pengiriman 2 hari yang lalu atas nama dirinya dengan nomer rekening yang disebutnya lengkap..pihak bank (seolah-olah begitu, ingat yang menghubungi bank adalah Wisnu dan itu bisa nomor siapa saja) mengkonfirmasi bahwa memang telah dilakukan transfer, namun karena jaringan ATM sedang mengalami gangguan (2 hari ??) proses transfer belum dapat diterima. Benar-benar konfirmasi dari bank reka2 itu sepetinya memang dilatih secara khusus, bahasa dan komunikasi bicaranya adalah seorang customer service Call Center Bank.
Wisnu memberikan kesempatan banknya untuk berbicara denganku. CS bank itu menanyakan kebenaran rekeningku, nama lengkap, alamat bank, nilai saldo akhir..dan memintaku untuk melakukan transfer sejumlah kecil, hanya untuk memastikan aktif tidaknya rekeningku. Sejumlah kecil itu jika berhasil tentu sudah kali berapa korban. Aku sampaikan bahwa saldoku tidak mungkin untuk melakukan transfer lagi. Tanpa ada jeda, nyaris spontan cs bank itu meminta jika ada nomer rekening lain mungkin bisa dialihkan kesana. Tidak ingin ketahuan aku menyidik, aku sampaikan ada..kemudian aku menyebutkan nomor rekening rekaanku, dengan atas namaku pada bank lain. Berikut saldo terakhir aku sampaikan: 20an juta, tentu ini juga rekaan. Mendadak nada bicara CS itu menjadi tidak professional...yakin! Ia kemudian memintaku menuju atm bank tersebut karena saat ini dia sedang melakukan pemindahan transfer, atas persetujuan Wisnu juga..
Wisnu memintaku untuk sekali lagi sms bukan call, begitu sampai di ATM bank tersebut. Setengah emosi dan jengkel, membayangkan berapa korban yang telah berhasil mereka tipu. Aku sanggupi untuk menelpon dia seandainya memang sudah ada transfer yang masuk ke rekeningku sejumlah 10 juta. Sampai detik ini, aset itu telah laku di tangan orang lain tidak ada transfer itu, dan Wisnu pun tidak pernah menghubungi lagi sejak sore di mesin atm mandiri sriwedari itu. Aku sempatkan menelpon Wisnu sekali, itupun sekedar saran untuknya mencari pekerjaan lain...be aware!

Friday, January 14, 2011

Anggrek Nusantara -the stories



Ini adalah salah satu dari sekian jenis anggrek yang ada di Indonesia. Tersembunyi bersama ratusan jenis lainnya yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Salah satu kekayaan yang dimiliki bangsa kita ini, kekayaan...harta benda...semacam itulah kalian seharusnya membayangkan kekayaan negeri. Tetapi tidak banyak bangsa yang menyadari betapa berharganya sebuah sepesies tanaman yang hanya tumbuh secara alami di negerinya sendiri. Sebagian mungkin hanya melihat anggrek adalah tanaman bunga saja sama seperti yang lain. Aku begitu, sebelum bertemu anggrek dalam foto ini. Yang kemudian membawaku benar-benar cinta anggrek dikemudian hari. Dan mungkin aku akan membagi sedikit cerita saja untuk kalian, aku berharap kalian tidak mencari-cari bahasa ilmiah atau latin atau istilah-istilah aneh yang mungkin saja aku akan salah mengeja dan menuliskannya. Ini hanyalah cerita sederhana saja yang mungkin membuat kalian juga ikut mencintai anggrek sepertiku.
Adalah bapak Fauzi seorang lelaki yang sedikit banyak aku tau bekerja sebagai seorang tehnisi truk-truk pengangkut barang antar propinsi. Kadang-kadang beliau juga membawa sendiri truk-truk itu menuju tujuannya seantero nusantara. Pertemuanku dengan beliau terjadi ketika aku pindah tugas kerja dari kota Solo ke kota Cirebon. Rumah kontrakan yang aku ambil bersebelahan persis dengan rumah beliau, sebuah komplek perumahan tentu saja. Karena aku tahu kemudian juga kalau bapak Fauzi ini juga sering berpindah rumah. Beliau kelahiran kota Cilacap. Dari yang aku tau anak dan istrinya tinggal bersama orangtuanya di Cilacap. Rumahnya seringkali ditinggal kosong berminggu-minggu. Bahkan perkenalanku dengan beliau diawali oleh anggrek ini.
Suatu pagi ketika sudah sejak dua mingguan aku tempati rumah kontrakan itu, aku pertama kali melihat kehidupan di rumah sebelah. Seseorang sedang memegang selang air yang memancar menyiram deretan menggantung pot-pot bunga yang kelihatan kering seperti telah mengalami kemarau panjang. Tidak terlihat hijau subur daun-daunnya, hanya akar-akar yang menjuntai panjang. Abu-abu...bersisik-sisik...kurus...liar, seolah pot-pot itu hanya ditanami akar-akar itu saja. Satu dua daunnya masih nampak, tapi tidak lebih dominan dari warna abu-abu. Namun justru itulah yang menghentikan langkahku dan mengurungkan niat untu sekedar jalan keliling perumahan. Aku begitu menikmati eksotisme tanaman yang kemudian aku tau dari jenis anggrek. Rupanya pak Fauzi-lah lelaki itu. Dari sapaan, tak lama berlanjut...aku sudah mengetahui, kenapa ia begitu tergesa menyiram pot-potnya itu. Beliau bilang, saat ini sedang dalam perjalanan menuju Banten dari Surabaya. Ia sempatkan mampir sejenak ke rumah karena sudah hampir 2 minggu pot-potnya itu belum tersentuh air. Cerita beliau berlanjut, jika saat pot-pot itu harus disiram air, dimanapun ia berada, dipastikan dia akan pulang memberi air pot-pot itu. Begitu berarti tanaman-tanaman itu untuknya. Aku belajar sesuatu darinya..membuat aku betah dan berlama-lama menemani beliau menyirami bunga.
Dari pertemuan singkat itu beliu banyak bercerita tentang anggrek. Salah satunya yang berhasil menghentikan langkahku pagi itu. Dikenal sebagai salah satu Pink Tiger terliar yang pernah ada. Pak Fauzi bilang, beliau mendapatkan anggrek itu di pedalaman Ambon. Beliau tidak membeli dari seseorang pun juga tidak menemukannya begitu saja di tepi jalan. Beliau harus keluar masuk hutan, mengisi waktu senggangnya menunggu muatan trucknya penuh yang kadang bisa berhari-hari. Perburuannya itu dibantu beberapa warga setempat yang sedikit banyak tahu peta pertumbuhan anggrek dipedalaman hutan. Anggrek itu tumbuh di pucuk-pucuk pepohonan hutan tropis, nyawanya hampir-mapir berpisah dari raga saat beliau merampas anggrek itu dari habitat aslinya. Tidak puas hanya mengambil tunasnya saja atau bakal barunya saja, bahkan seluruh akar-akarnya pun terbawa kulit pohon yang dikupasnya... "harganya bisa lebih mahal jika dalam kondisi naturalnya mas.." tambahnya. Kecintaannya pada anggrek (uang?) telah membutakan nuraninya...

Bukankah tidak sebaiknya ia tetap disana dan kemudian secara alam berkehendak untuk anggrek itu tumbuh dan berkembang ?

Ceritanya tidak berakhir disitu saja, perburuan anggrek juga dilakukan rekan-rekannya yang katanya juga penyayang anggrek liar. Ingin betul aku saat itu untuk sekali saja ikut perburuan anggrek itu, bukan untuk merampasnya dari alam. Sekedar mengambil gambar melalui lensa puasku mungkin sudah tak berkira-kira, dan membagi kenikmatan itu bersama mereka 'penyayang anggrek liar' itu. Aku yakin ada banyak cara lain yang lebih bijaksana mencurahkan kecintaan pada anggrek liar...atau jenis tanaman lainnya.

FIGHT for Wild Orchid !!


Wednesday, December 1, 2010

It's December 1st

Mida...

air mataku masih untukmu...

dari Midawati, Teman dari Silir

Sudah hampir sewindu aku mengenang seorang pesakitan dari sebuah lokalisasi. Silir begitu nama lokalisasi itu dan Midawati adalah pesakitan itu. Padat, vulgar, saru, hampir menggambarkan keseharian warganya, Mida juga begitu. Itu dulu, sekarang tempat itu telah berubah. Disana saat ini menampung banyak pedagang barang bekas, accesories motor, sepeda dan aneka barang yang mungkin belum kalian lihat sebelumnya. Orang sana menyebut Pasar Klithik'an jika ditanya kondektur bis pedesaan "berhanti dimana mas ..?" Aku berterimakasih kepada pemkot untuk perubahan itu. Dan Mida ... dia sekarang entah dimana?
Perkenalanku dengannya bukan suatu ketidak sengajaan, aku yakin kami memang sengaja dipertemukan. Dan aku meyakini ada suatu tujuan diantaranya. Saat semester2 awal dulu di UNS aku bergabung dengan Organisasi kemanusiaan disana, alih-alih sebagai wadah sosialisasi di lingkungan kampus. Tengah tahun pertama bergabung aku mendapat kepercayaan Sebagai staff bidang P2M (pengabdian pada masyarakat). Saat itulah aku ditugasi untuk mencari lokalisasi tempat akan diiadakan kegiatan tahunan sosialisasi tentang bahaya Penyakit Menular Sexual. Silir adalah satu-satunya lokasi yang aku tahu. Dari sanalah aku mengenal Mida, salahsatu dari beribu cara aku pasti dipertemukan dengannya.
Mida lebih memilih membicarakan tentang tanaman atau piaraan lohannya jika aku bertanya jauh tentang pilihan hidupnya. Kadang dia sering mendahului aku bertanya soal harga lombok, bawang atau tomat jika membaca aku akan menanyakan kabar ibu bapaknya. Usianya baru belasan saat itu, tapi aku tak pernah bisa menolak topik pembicaraan yang dia bawa. Semuanya tentang bunga-bunga yang berwarna-warni, air di sungai2 kecil dilereng Lawu yang jernih dan sejuk, atau dia memilih membicarakan buku yang aku bawakan untuknya hari kemaren. Sedangkan aku sebenarnya ingin betul menanyai kenapa ? kenapa dia memilih lembah hitam ini ?
Dari sebuah mawar di pot kecil berdaun 3 tangkai dan belum pernah kulihat berbunga sebelumnya aku mengetahui sedikit rahasia hidupnya.
"Mas tau kenapa mawar ini ndak mau berbunga..?"
"Mungkin karena memang itu bukan jenis Mawar yang memiliki bunga.." Bukankah semua Mawar pasti berbunga? Aku berkonsentrasi mengikuti nada bicaranya. Jika sudah membicarakan bunga, atau pepohonan, bambu sekalipun dia mengucapkannya dengan lirih dan pelan seperti hendak menangisi sesuatu. Hingga aku tidak menyadari yang aku ucapkan.
"Seperti sering aku tanyakan padamu mas, kenapa mau berteman dengan orang seperti aku .."
Kami diam beberapa saat. Sering begitu diantara kami.
"Menurutmu kenapa aku mau berteman denganmu?"
"Mawar ini tidak memiliki duri satupun, dia tidak akan mampu melindungi bunganya sendiri..."
Matanya mulai berkaca sambil menatapku dalam, tak dapat ku jangkau dasarnya.
"Tanpa duri Mawar ini sedang sekarat, menuggu saatnya tiba pemangsa yang mencabik daun-daunnya...hingga dirinya takut untuk berbunga..kalau2 seorang anak perempuan akan memetiknya begitu saja dan menariknya dari akar2 yang memang rapuh..maka binasalah saat itu juga" Kutengok matanya memang benar-benar sembab menahan perih.
"Jika saatku tiba aku tak ingin mas terluka .. "
Senja itu cerita tentang Mawar berhenti begitu saja, meninggalkan tanya padaku saat aku merenung kembali arti diriku untuk Mida. Aku tidak pernah berani mengartikan apapun hubungan kami. Satu tahun berikutnya aku menyadari pembicaraan itu ketika aku menungguinya di pusat rehabilitasi.
Mawar itu masih di pot yang sama, ada 5 tangkai daun yang tampak lebih hijau subur. Batangnya pun kelihatan lebih kokoh, aku yakin akarnya pun telah tertancap hingga ingin menyeruak menembus dinding pot. Dengan beberapa duri yang tajam menantang seperti berteriak saat panglima perang menggerakkan pasukaanya. Satu lagi ia berbunga dengan anggun dan gagah sekaligus...dan itu bunga pertamanya. Berkelopak putih seperti kain para dewa dewi. Kuncup hampir merekah, nampaknya ditahan agar tetap seperti itu saja. Sombong sekali mawar itu, diabaikannya begitu saja tubuh yang kini kurus kering di sampingnya. Dia tidak tahu apa! siapa yang telah bersusah payah membuatnya berbunga? Baru satu bunga kau miliki bagaimana jika seribu bunga kau punya! Hampir tiap sore setelah mata kuliah terakhir aku beradu dengannya. Kebencianku hanya dimiliki mawar itu .. sungguh! kalau dia bicara tentu sudah ramai ruang kecil itu..tentu saja oleh pertengkaran kami yang tiada pernah habis. Kami berdua kadang melupakan tubuh kurus yang sudah lama terbaring itu. Kuluapkan semuanya pada Mawar yang sombong itu, aku membencinya sampai detik ini sekalipun! Mawar itu tidak memberi guna apapun untuk tubuh kurus yang telah bersusah payah mengasuhnya. Tidak tahu berterimakasih, baru berbunga satu saja sombongnya setengah keparat.
Sampai suatu sore setelah mata kuliah renang aku bersiap untuk bertempur dengan Mawar sombong itu. Tapi...dimana ruang kecil itu ? pintunya tak mau dibuka. Kulihat Mawar itu masih ditempatnya, persis di tengah jendela mendahului sinar mentari kala pagi. Aku mencari . . . dimana Mida? tidak kulihat lagi ranjangnya. Kata beberapa petugas Mida diambil dibawa pulang keluarganya hanya itu yang aku dapat.
Keluarga yang mana? bukankah keluarga satu-satunya cuma buleknya yang sama angkuhnya dengan mawar itu. Buleknya yang tidak mau sama sekali membolehkan Mida minum dari gelas dirumahnya? Buleknya yang tidak mau Mida makan dari piring dirumahnya? Buleknya yang selama ini menelantarkan Mida karena dia ODHA. Aku benar-benar marah saat itu. Mawar itu aku ajak serta mencari Mida. Berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, studyku kacau balau, AIDS merenggut cinta yang aku sadari berikutnya...setelah sesal karena tak pernah memberitahunya.
Sampai kini aku tak pernah menjumpainya lagi, hanya pusara yang ditinggalkannya...akupun tak yakin ada jasadnya disana, karena sepanjang pencarianku pernah terjejak Mida di Krematorium. Siapa yang tega melakukannya?

Sunday, February 28, 2010

Bagaimanapun perempuan tetap sangat menarik di mataku... dan sebagian besar pria. Ingatkan aku jika salah. Beberapa hari lalu aku bertemu dengan Nadia, (baca: Night life -Nadia- ...dan benar benar dengan format yang berbeda!

Ketika aku sampai kembali di kota kecil ini memang aku sengaja menelpon dia, sekedar untuk menemani ku mencari beberapa informasi. Dia sudah menyelesaikan S1 dengan tertatih tatih. Bekerja di sebuah bank swasta membuatnya lebih kelihatan deawasa dan sama sekali jauh dari kesan manja beberapa tahun selam ketika masih banyak waktu yang kami habiskan bersama.

Sedkit basa-basi karena dia juga menanyakan kabar dan bisnis yg aku jalankan dulu... ucapan selamat berujung pertanyaan...
"malam ini nginep dimana?" di Plaza jawabku singkat.
Penasaran karena tidak aku undang dia menawarkan... "masih boleh nemenin...?"

Malam itu adiknya datang bergabung dengan kami. Bener, maksudku adik kandungnya.. Icha namanya. ngikutin jejeak kakaknya...menjadi penghibur lelaki kesepian...

Thanks God I'm just fine.

Tuesday, December 15, 2009

Promo buku



Hai-hai... Build Independence kembali menggelar acara promo buku.
Kali ini bertempat di Gramedia Bookstore 'Slamet Riyadi'
Acara akan dilaksanakan pada Hari Sabtu 19 Desember 2009 pukul 13:00 - 15:00 WIB
Dateng ya ... gratis kok. Ditunggu....

Friday, November 27, 2009

Gerakan Indah

SoloSinau - Bengawan.org

Membaca... apa saja pasti memberikan manfaat..tentu saja. Sekedar bercerita, sebut saja sekarang seorang mantan bos dulu, hobynya juga membaca. Buku apapun dilahapnya, hoby beliau ini memang sudah berlangsung sejak dulu kala. Sampai buku karangan Anny Arrow (bener ga nulisnya <--excuse) pun pernah dia baca beberapa episode. Celakanya dia mengingat salah satu karakter nama yang diciptakan penulisnya..senama dengan saya. Blahh... jadilah kemudian saya bintang (maaf) porno dikepalanya.
Bicara manfaat, sekian puluh tahun kemudian ketika beliau mempunyai anak buah yang bisa jadi obat stress, karena gagal menjunjung nama sendiri dan jatuh terpuruk karena dosa orang lain (karena menulis buku porno), manfaat membaca tulisan Anny Arrow kami rasakan berdua. Alih - alih bos kalo ga puas ma kerjaan anak buah pasti didamprat habis, tidak untuk saya, kalo ada yang ga bener saya kerjakan, paling banter didiemin sejam juga saya sudah kerasa ada yang ga beres. Kalo ga didiemin satu hari penuh dia akan membawa atmosfer kerja ke banyolan ga karuan, tentang bintang porno itu.
Hubungan ini berlanjut seperti itu sampai saat ini sejak setahun yang lalu saya tinggalkan beliau.

Sebuah buku juga telah banyak memberikan kontribusi terhadap cara pandang individu. Saya pribadi saja tidak perlu jauh-jauh, sebuah buku telah membuat saya memiliki mimpi yang sampai sekarang masih membekas dan masih menjadi mimpi. Perancis.
Buku itu berjudul "Le Petit Prince" ketika itu saya mendapatkan buku saat berusia kelas 5-an SD. Dibawakan Bapak yang kebetulan saat itu sebagai guru SD honorer, jika biasanya beliau membawakan 'Kuncung', karena belum ambil gaji honorernya, beliau mampir toko buku loak dan membelikan buku itu untuk saya dalam kondisi bekas dan dibungkus koran bukan plastik. Atas dasar apapun beliau memilih buku itu, Tuhan campur tangan didalamnya, dari sekian banyak buku yang di jual di loak, buku berjudul bahasa yang asing beliau pilih. Buku itu dikarang Sir Anthoinne DE SAINT EXUPERRY kalau salah ketik tolong dikoreksi. Di halaman kulit belakang buku itu termuat nama penerbit dan sebuah tulisan besar PERENCIES dengan menara eiffel diatasnya. Image dan tulisan itu membekas di ingatan saya, bukan isinya karena saya tidak memahami satu katapun didalamnya. Tidak banyak yang dapat saya lakukan saat itu, dan layaknya anak kecil yang suka berandai-andai, andai-an saya saat itu adalah saya ingin melihat Perencies (diceritakan padaku kala itu tentang keindahannya, entah dari mana Bapak tahu tentang Perencies). Untuk dapat mengerti isi buku itu aku membutuhkan beberapa tahun berikutnya ketika saya duduk di bangku SMP, saya menemukan buku bergambar sampul sama....ta da...ya bukan kebetulan karena begitu ingin mengerti isi buku itu, pencarianku berhenti di perpustakaan SMP-ku. Dengan judul "Pangeran Kecil" dalam bahasa Indonesia terbitan BP..diusia belasan tahun saya membaca buku itu lengkap dengan terjemahan dan dalam bahasa aslinya. Percayalah jika ingin tahu bagaimana buku itu merubah cara pandang saya, bacalah buku itu. Dan keinginan ke Perencies itu sampai sekarang masih sangat kuat dalam diri saya, meskipun kemudian saya sudah mengetahui isi buku itu.

Pengalaman membaca buku bagi siapapun pasti akan memberikan kesan sendiri. Mantan Bos itu dan saya sendiri sedikit banyak telah terpengaruh apa yang pernah dibaca di masa lalu. Buku apapun pasti akan memberikan manfaat spesific bagi pembacanya. Meskipun bukunya sama, jika dibaca dua individu berbeda pasti juga akan memberikan manfaat yang berbeda bagi masing masing pembacanya.
Tidakkah anda ingin seperti Bapak saya yang telah memberikan kesempatan indah buat saya bermimpi tentang sebuah negeri bernama Perancis? terima kasih saya kepada beliau masih saya sampaikan (meskipun dalam hati saja) atas kesempatan yang beliau berikan kepada saya untuk mengenal buku berjudul Le Petit Prince itu...
Atau mungkin anda ingin juga menulis seperti Anny Arrow dan memberikan berjuta inspirasi untuk pembaca anda...dan tentu saja isi-nya yang berbeda...

ayo menulis dan memberikan kesempatan orang untuk membaca!